Mengais dari sebuah onggokan

Sebuah buah kesentimentilan, yang bisa dipetik, dan dirasakan, dalam sampai jauh.

Adik, kalau ada apa-apa, bilang sama teteh ya.
Teteh kan bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu.
Teteh tau kamu pasti sedang riweuh, ke sana ke sini, ke sana sini lagi.
Bukan pengen ganggu kamu sayang, teteh cuma mau tau,
Kalau kamu baik-baik aja.

Aku bukan cenayang.
Bekasi, September 2010

I just can’t resist you…
— Quote from : The Veronicas - Untouched

Believe me, I’m not using you.
I told you before, don’t put any hope for me.
But you still act too kind to me.
I feel pretty uneasy.
I feel I’m cruel.
But I can’t just give my feeling to you.
Sorry.

I
Ketuhanan yang maha Esa.
Kehakikian yang tak berani digugat bangsa,
Entah karena sebuah keyakinan, ataukah takut diarak massa.

II
Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Di buku pelajaran hanyalah sebuah bab,
Padahal yang miskin dianiaya dan dipermalukan tanpa sebab.

III
Persatuan Indonesia.
Padahal slogan ini diumbar kemana-mana.
Tetapi selalu saja terjadi, tawuran massa atau bentrok antar agama.

IV
Kerakyatan yang (katanya) dipimpin oleh…
Oleh nafsu dan serakah yang ditoreh,
Atau oleh kepentingan penguasa, asal dia senang apapun boleh.

V
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Lalu mengapa mereka yang kaya semakin kaya?
Dan mengapa, yang miskin, yang tak punya harus semakin menderita?

Apa seharusnya diletakan catatan di bawah teks pancasila?
“Kelima pasal tersebut hanyalah azas berupa tulisan,
yang tidak dikenakan pidana bagi yang melanggarnya.”

Kenyataan kan?

Puisi setelah sahur, demi untuk memenuhi tugas pelajaran Kewarganegaraan, semoga saya tidak dituntut.

Bekasi, Agustus, 2010

Pernah direkat, lalu digoyah.
Digoyah kuat, hingga lepas.

Sudah aku ingin lepas, jangan ganggu lagi!
Akupun lepas, bebas, mandiri.

Diumbar-umbar dengan seronok,
Generasi penerus bangsa harus digodok.
Maka digalakanlah yang katanya BOS.
Asal berotak tak punya dana bisa lolos.

Nampaknya itu cuma omong kosong.
Bagai mimpi di siang bolong.
Buktinya karena tunggakan,
Sudah diancam dikeluarkan.

Katanya Indonesia mau bergerak,
Tapi uang lebih berguna dibanding otak.
Otak cemerlang, tanpa biaya bulanan,
Kongruen cuma dengan sekolah pinggiran.

Bagaimana mereka masih mengharap balasan,
Kalo selama berjuang dihalang ditekan.
Kami cuma mau sekolah dengan tenang.
Kami cuma mau lulus dengan gemilang.

Kami cuma mau punya masa depan. Meraih angan.

Kalo kompor gas gratis? Kenapa sekolah gratis ngga bisa?
Apa karena kompor gas meledak, sekolah yang gratis cuma sekolah kampung ya?
Bagaimana nasib-nasib otak berlian yang terkubur dalam lumpur bisa dieksplorasi kalau begitu? Cih.

Bekasi, Agustus 2010

Pengen punya pacar, shit.
— jeritan seorang murid SMA yang hidupnya penuh kebosanan.
There’s a contradiction whether I have to stop or continue.
All I want to do is hug you and say, “Please stop.
— For people who’s make me smile and cry in the same time. I adore you for what you did, except those one. Open your mind and look at the fact. I hope you see me here someday.

Aku ingin menyentuh rambutmu, dan memainkannya sepuasku.
Mengacak, membelai, menarik, menjambak, menciumnya.

Aku ingin menyentuh pipimu, dan memainkannya sepuasku.
Mengelus, mencubit, menarik, menggigit, menciumnya.

Karena kau adalah adiksi bagiku.

— Bekasi, Agustus 2010

Kalau kau belum siap menangis bersamaku,
Jadilah temanku.

Maka aku tidak akan tega, melihatmu bersedih.

I still can resist the pain of losing a lover,
But I’m suffering from losing a friend.

Bekasi, Agustus 2010

Ultralite Powered by Tumblr | Designed by:Doinwork